Mengobati Kerinduan Perantau Banjar

Urang Banjar madam ka tanah seberang Gawian badagang lawan bahuma Ulun baharap pian baik-baik dengan semua orang Supaya hidup sejahtera di tanah Sumatra Labat pinang di tangah kampung Masak satangkai andak di pati Sedih hati ulun bapisah dengan urang sakampung Mudahan di lain waktu badapat lagi Bukan tikar sembarang tikar Tikar kami berlapis empat Bukan Banjar sembarang Banjar Banjar berbuat negeri bermartabat Pantun bait pertama diucapkan Sultan Banjar Khairul Saleh dalam mengawali sambutannya, yang mendapatkan respons hangat dan meriah dari warga Banjar. Bait kedua diucapkan Sultan di akhir sambutannya, sehingga menimbulkan rasa haru yang mendalam, dibarengi kata: amiin, oleh hadirin. Meskipun Khairul Saleh mengaku orang Banjar tidak sepandai orang Melayu dalam berpantun, namun pantun dan sambutan Sultan mendapatkan sambutan luar biasa dari ribuan hadirin. Bait ketiga adalah pantun balasan dari tuan rumah, Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu. Pantun itu merupakan bentuk penghargaan dan terimakasih terhadap komunitas Banjar di daerahnya yang sudah sekian lama menjadi bagian dari penduduk Langkat. Orang Banjar dinilai sebagai warga yang baik, rukun, menyukai kedamaian, lebih banyak bekerja daripada berbicara. Orang Banjar juga bisa dipegang janji dan kata-katanya, seperti halnya buah manggis, kalau kulit luar seginya enam, maka isinya juga enam, dan seterusnya. Itulah sekelumit suasana acara pertemuan Sultan Banjar dengan warga Banjar di Provinsi Sumatra Utara, khususnya Kabupaten Langkat. Acara ini dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Plt Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho, Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nuradi, Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu sebagai tuan rumah, yang mewakili Kesultanan Langkat Tengku Abdul Aziz Tajul Muluk, ketua dan anggota DPRD, Ketua MUI, para awak media dan lainnya. Gatot dan Tengku Erry merupakan pasangan calon gubernur dan wakil gubenrur dalam pilkada Sumut. Pengobat Rindu Memang sudah lama masyarakat Banjar di perantauan merindukan kehadiran Sultan Banjar H Khairul Saleh di daerah mereka masing-masng, termasuk yang berdomisili di Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai dan sebagainya di Provinsi Sumatra Utara. Sebelumnya Sultan juga sering diminta memenuhi undangan warga Banjar di daerah lain seperti Pontianak, Sambas, Kotawaringin, Menpawah, Buton, Bulungan, Jakarta, Yogyakarta, Pekanbaru, Tembilahan, dll. Kerinduan mereka itu disebabkan: Pertama, datuk nenek mereka memang berasal dari banua Banjar Kalimantan Selatan, yang walaupun sudah merantau puluhan tahun masih terkenang dengan banua asal. Kedua, mereka mendengar cerita tentang banua Banjar dari para leluhurnya, sehingga menimbulkan kerinduan yang mendalam. Ketiga, hanya sebagian kecil dari mereka yang berkesempatan pulang, mudik atau apalah namanya ke banua Banjar, untuk menjenguk danm bersilaturahim dengan sisa-sisa keluarga yang masih ada. Sebagai perekat dengan tanah leluhur dan pengobat kerinduan akan banua Banjar, komunitas Banjar di perantauan tetap berusaha memegang adat istiadat dan budaya Banjar, baik di segi bahasa, sikap dan tingkah laku, pola dan gaya hidup, kesenian, sikap beragama, jenis makanan, cara berpakaian dan sebagainya. Namun ternyata semua itu belumlah cukup untuk mengobati kerinduan. Mereka tetap menginginkan ada tokoh atau pejabat di banua Banjar yang berkenan menjenguk, berkunjung atau mailangi mereka yang hidup di tanah seberang. Itu sebabnya mereka berkali-kali meminta kepada Sultan Banjar H Khairul Saleh untuk berkenan datang. Akhirnya kesempatan itu pun tiba. Khairul Saleh yang mereka sebut Tuanku Baginda Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah didampingi Drs H Abd Ghani Fauzi MM (Kabid Budaya Dinas Pariwisata Banjar) dan Masrur Auf Ja’far SH MH (Intan Banjar) memenuhi undangan Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) Kabupaten Langkat akhir Februari lalu,. Sultan diundang untuk meresmikan Rumah Adat Banjar ”Lampau Banua” yang terletak di Kompleks Perkantoran Bupati Langkat di ibukota Stabat, Langkat. Undangan sekaligus untuk peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekretariat PMKK Langkat. Tak ayal kesempatan itu digunakan oleh warga Banjar untuk melepas kerinduan. Mereka merasa sangat bahagia dan berebutan menyalami dan merubung Sultan. Setiap kata dan kalimat dalam sambutan Sultan yang dipadukan dengan bahasa Banjar sebagai bahasa sehari-hari warga Banjar di pernatauan, didengar dengan seksama dan penuh perhatian. Sekejap mereka seolah sedang berada di banua Banjar. Terlebih ketika Sultan menceritakan kronologi Perang Banjar melawan Belanda dalam kurun 1859-1906 yang notabene merupakan perang terlama melawan penjajah di Nusantara, berikut keberanian para pejuang Banjar, hadirin terkesima dan bangga akan leluhurnya. Mereka juga mendukung kebangkitan kembali Kesultanan Banjar dalam ranah budaya. Membangun Solidaritas Rumah Adat Banjar Lampau Banua dibangun oleh Pemkab Langkat bersama komunitas Banjar setempat. Keberadaan bangunan ini sebagai penghargaan terhadap keberadaan masyarakat Banjar yang ikut membangun daerah dalam suka dan duka. Gedung juga dimaksudkan sebagai wadah berkumpul dan fasilitasi kegiatan agama dan budaya, khususnya bagi masyarakat Banjar setempat, yang berjumlah puluhan ribu orang. Menurut Effendi Sadli, tokoh Banjar yang juga beprofesi sebagai dai, penduduk Banjar di Provinsi Sumatra Utara mendekati 500 ribu orang. Beberapa yang terbanyak adalah di Kabupaten Langkat dan Serdang Bedagai. Masyarakat Banjar tetap memelihara identitas kebanjarannya, namun juga terbuka dalam bergaul lintas etnis, ujar Yamigha Urba Yusra (Pupoy)., tokoh pemuda Medan asal Aceh yang menyambut dan mendampingi Sultan selama di Medan dan Langkat. Hal ini diamini oleh HM Rusli, HM Bahrun Jamil, HM Husin, HM Effendi Sadli, H Maulana Rawi al-Banjari dan Zainuddin, tokoh dan ulama Banjar setempat. Zainuddin yang berjuluk Zainuddin Martapura bersama 70 orang dipimpin Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nuradi (adik kandung Tengku Rizal Nurdin, mantan Pangdam Bukit Barisan dan Gubernur Sumatra Utara yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat), merasa beruntung pernah sekali berkunjung ke Banjar, bertemu Sultan Banjar di Martapura dan mengikuti ceramah Ketum PB-NU Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan KH Bahran Jamil di kediaman Pengusaha Abidin HH di Banjarmasin, 2010 lalu. Mereka sangat ingin jika kesempatan itu terulang lagi di kemudian hari. Selama ini mereka tidak memiliki wadah berkumpul, kecuali di rumah para tetuha Banjar. Maka dengan adanya rumah adat ini, intensitas dan kualitas perkumpulan warga Banjar akan makin ditingkatkan,. Sehingga terbangun solidaritas dan soliditas antarwarga Banjar. Sebagaimana peribahasa, ”di mana duduk taampar di situ kukulaaan tabina”. Tanpa bermaksud menggurui, Sultan pun kembali menekankan perlunya warga Banjar di perantauan untuk saling menolong antarsesama, tetap menjaga kerukunan, dan pandai beradaptasi, sebagaimana peribahasa, ”di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Dengan begitu, warga Banjar di perantauan tidak menjadi beban atau pembuat konflik sosial, melainkan terus memberikan nilai tambah yang bermanfaat untuk sama-sama membangun daerah secara bermartabat. Penulis buku ”Refleksi Banua Banjar”, dukungan Kesultanan Banjar.

KesultananBanjar Utus Dua Datuk Hadiri Konvensyen panBorneo di Brunei

KesultananBanjar Utus Dua Datuk Hadiri Konvensyen panBorneo di BruneiBANDAR SERI BEGAWAN – Pusat Sejarah Brunei mengadakan Konvensyen penBorneo 2013 dari tanggal 13-14 Mei 2013 di Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam. Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya sejarah Borneo dan meningkatkan pengkajian tentang sejarah dan hal-hal berkaitan dengan masa depan Borneo. Hal ini dilakukan untuk melakukan penyelamatan warisan budaya Borneo dalam rangka menghadapi masalah global. Bagi Negara Brunei dan kawasan kerajaan dan kesultanan lain di Kalimantan Barat, Selatan dan Timur merupakan kesinambungan pemahaman peradaban Melayu Islam dan Dayak. Konvensyen panBorneo diikuti oleh seluruh utusan kerajaan dan kesultanan di kawasan Borneo/Kalimantan dan kalangan Universitas Brunei, Serawak, dan Sabah Malaysia serta dari Holland untuk mempertemukan pemikiran dan kajian borneo di masing-masing tempat, termasuk peradaban, agama, social budaya, adat tradisi, manuskrip dan sejarah kerajaan/kesultanan. Kegiatan ini dibagi dalam dua komponen program yakni pameran sumber kajian borneo dan penyampaian makalah sekitar 41 judul yang juga dihadiri para peninjau, mahasiswa, guru-guru Negara Brunei Darussalam dan peminat kajian Borneo. Dari Kalimantan Selatan dihadiri oleh dua orang utusan Kesultanan Banjar yakni DMA H. Syarifuddin yang mengangkat judul makalah Kerakatan Kerajaan dalam Hubungan Budaya sebagai Jendela Borneo. Sedangkan DCH Taufik Arbain mengangkat judul makalah Perang Banjar, Migrasi dan Penyebaran Islam di Negeri Serumpun Melayu Borneo. Menurut Taufik Arbain kehadiran kesultanan Banjar di konvensyen tersebut merupakan kehormatan dari kerajaan Brunei Darussalam untuk berbagi pikiran tentang kepentingan peradaban Borneo khususnya peradaban Melayu yang dilakukan Kesultanan Banjar sejak masa lalu hingga sekarang di selatan Borneo. “Pada acara tersebut kita bisa mendengarkan beberapa paparan dari pihak Kesultanan lain di Kalimantan, Brunei dan universitas di Sabah, Serawak dan Brunei sehingga mendapatkan titik temu dan saling tali temali atas pengkajian-pengkajian borneo”, ungkap dosen Fisip Unlam ini. Sementara itu menurut DMA Syarifuddin, kegiatan yang dicadangkan oleh Kerajaan Brunei sebagai Pusat Kajian Borneo akan mengeratkan hubungan antar pihak dan saling member, membangun silaturahmi dan kunjungan dalam rangka melakukan pengkajian borneo dan mengkomunikasikan perkembangan masing-masing. (humas/by/ram)

SULTAN KHAIRUL SALEH dan JOKOWI

Perubahan memerlukan motor penggerak dan sebesar-besarnya resiko motor penggerak adalah berani bergerak di awal perubahan (Pepatah Barat) Ketika menyaksikan Program TV swasta tayangan reality dunia pendidikan, ada stage yang menggugah serta memantik keingintahuan kita lebih dalam. Yaitu tentang bagaimana siswa sekolah terpencil menjawab dengan lugu “Tidak Tahu” ketika ditanya siapa gubernur provinsinya? Namun ketika ditanya siapa Gubernur Jakarta anak itu menjawab dengan lantang dan berteriak “JOKOWI..” katanya. Ya, Jokowi. Memang sosok pria kurus dan bermuka “ndeso” ini menjadi fenomena dalam setengah dasawarsa terakhir ini. Perilaku yang tidak konvensional menjadi ciri khas Jokowi. Perilaku Blusukan, pemotongan jalur birokrasi, pelelangan jabatan, Role Model Jaminan Kesehatan dan Pendidikan dan teruss berlanjut sampai sekarang. Setiap gerakannya merubah muka kepemimpinan konvensional yang selama ini stabil elitis. Tidak salah kemudian media menyebut Jokowi sebagai “Media Darling”. Semua Koran atau media elektronik nasional menugaskan 1 wartawannya untuk mengekor “ritual” Jokowi dari pagi sampai malam. Konon kabarnya salah satu Koran nasional bahkan menugaskan 3 wartawannya selama 24 jam bergantian khusus untuk mengamati gerak-gerik jokowi. Fenomena kepemimpinan seperti ini tentu saja merobek-robek kepemimpinan konvensional. Bak gayung bersambut dengan harapan masyarakat yang mendamba-dambakan kepemimpinan unik dan populer seperti ini. Dalam konteks regional, yang unik dan menarik, juga terjadi dalam fenomena kepemimpinan di Kalimantan Selatan. Seorang Bupati Banjar berdarah biru “memproklamirkan” restorasi Kesultanan Banjar pada Tahun 2010. Setelah sebelumnya mendirikan Lembaga Adat Kekerabatan Kesultanan Banjar dan melakukan Musyawarah Tinggi Adat dengan para keturunan dan tokoh terpandang Banua Banjar. Seperti halnya di awal kemunculan Jokowi, Sang Sultan Khairul Saleh juga kenyang dengan cacian, hinaan dan fitnah yang bertendensi bahwa kesultanan hanya bungkus untuk kepentingan yang lebih besar. Fitnah yang paling besar adalah bahwa sang sultan akan melakukan kudeta budaya. Sesuai pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, LAKKB dengan Sultan Khairul Saleh secara konsisten membangkitkan kembali budaya Banjar yang hampir terlupakan oleh zaman. Dari menghidupkan kembali festival budaya banjar tahunan, mengikutsertakan kesenian Banjar di event internasional, membantu seniman budaya Banjar, Pertandingan silat tradisional (kuntau), Peringatan Asyura, Pemberian Gelar Adat dan lain-lain. Namun dari semua ini, menurut penulis yang paling terberat dan berisiko besar adalah penasbishan Sang Sultan. Tidak sembarang orang yang mampu mengemban beban berat seperti ini dengan segala resikonya. Andai saja penulis yang menjadi SULTAN di tahun 2010 pun Kesultanan ini akan kembali tenggelam. Namun dengan semua tenaga tercurah, waktu, pikiran dan tentunya perasaan, Sultan Khairul Saleh, tetap bersedia berkorban untuk mengusahakan kembali jayanya Kesultanan Banjar setelah ratusan tahun “punah”. Berbeda dengan di awal periode berdirinya LAKKB. Sekarang masyarakat Kalsel sedikit banyak aware bahwa telah bangkit Kesultanan Banjar. Ini adalah murni dalam konteks kebudayaan dan tidak ada unsur lain sebagai agenda utama. Masyarakat bisa menilai bahwa Kesultanan Banjar modern telah banyak membantu pengenalan dan pembangkitan kembali budaya-budaya daerah yang hampir dilupakan. Salah satu bukti utama adanya pengakuan dari Kerajaan lain di Nusantara dan Negara Jiran serumpun melayu (Malaysia dan Brunei) bahwa Kesultanan Banjar telah bangkit dan selalu diundang dalam forum-forum resmi kerajaan. Seperti Forum Silaturahmi Kerajaan Nusantara (FKSN), forum ini didorong oleh Pemerintah Pusat untuk menghidupkan kembali budaya-budaya daerah yang menjadi entitas daerah masing-masing. Dua tahun setelah berdirinya Kesultanan Banjar, LAKKaS dengan sumber daya mandiri dan menggunakan enumerator survey Mahasiswa, melakukan riset ilmiah dengan mensurvei penerimaan masyarakat terhadap Kesultanan Banjar era modern. Hasilnya cukup positif. Mayoritas responden yang dipilih secara acak dari seluruh Kabupaten/Kota di Kalsel menyatakan menerima dan setuju berdirinya kembali kesultanan Banjar, sebanyak 62 % (akseptabilitas tinggi). Rata-rata mereka mengetahui keberadaan kesultanan Banjar utamanya melalui media massa (61 %) (Pers Release 08 Januari 2012, Permata Inn Hotel). Memang setelah ditarik benang merah, penerimaan masyarakat lebih cenderung kepada telah adanya upaya positif acara tahunan Kesultanan Banjar konsisten menghidupkan kembali Budaya Banjar. Sampai saat ini pihak Kesultanan Banjar tidak pernah secara khusus melakukan sosialisasi terbuka dan langsung kepada masyarakat. Inilah penyebab masyarakat hanya mengetahui tentang Kesultanan Banjar hanya dari media massa. Cibiran dan Hinaan lambat tapi pasti telah berubah menjadi pujian. Masyarakat sudah sadar bahwa era feodalistik yang menganggap bangsawan diatas derajatnya dari masyarakat biasa sudah lewat. Kesultanan Banjar tida hadir untuk menghidupkan kembali budaya feodalistik namun sebagai pencetus dan katalisator budaya-budaya Banjar untuk kembali hidup dan diwariskan ke anak cucu. Masalah gelar Sultan atau penunjukan Sultan pun tidak menjadi soal. Yang menjadi soal sekarang adalah, ketika Sultan Khairul Saleh mau berkorban untuk Budaya Banjar kenapa kita lantas antipati. Mestinya kita bertanya balik apa yang sudah kita korbankan untuk Banjar tercinta ini. Sewajarnya masyarakat Banjar yang dulu pernah bersatu padu dan berjaya dalam wadah Kesultanan Banjar hidup dan menghidupi kembali jiwa-jiwa Banjar kita. Ada istilah Jangan becakut papadaan, haram manyarah , waja sampai kaputing harus kita junjung. Biarlah masyarakat yang menjadi penilai atas ikhtiar pengabdian yang dilakukan. () *) Direktur Eksekutif LAKKaS (Lembaga Kajian Kemanusiaan)

Kalsel Beruntung Miliki Tokoh H Sulaiman HB. Sultan Banjar: “Beliau Aset Daerah”

[SinglePic not found]Masyarakat Kalimantan Selatan dinilai sangat beruntung memiliki seorang tokoh bernama H Sulaiman HB yang selama ini ikhlas mendermakan sebagian profit usahanya untuk kepentingan sosial, pendidikan, keagamaan, olahraga dan pelestarian budaya daerah.

Demikian diutarakan Sultan Banjar H Khairul Saleh saat membuka dan memberikan sambutan di acara Malam Bakarasmin Kasanian Daerah Banjar dalam rangka Memperingati HUT ke- 65 HA Sulaiman HB, di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kasel, Sabtu (20/4) malam.

Diutarakan H Khairul Saleh, kiprah sosial H Sulaiman HB dan keluarga untuk kepentingan sosial, pendidikan dan usaha peningkatan prestasi atlet daerah serta pelestarian budaya Banjar tidak diragukan lagi. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mendorong dan memberikan bantuan kepada masyarakat agar peduli terhadap pelestarian budaya lokal.

“Ayahanda H Sulaiman merupakan Read more »

Sultan Khairul Saleh Merajut Zuriat di Nagari Padang, Sumatera Barat

Gunung Pangilun yang terletak di Nagari Padang, Sumatera Barat ternyata juga menyimpan sejarah kesultanan Banjar karena di puncak gunung Pangilun tersebut Pangeran Syahabuddin di makamkan. Pangeran Syahabuddin anak dari Pangeran Hasir/Hasim (saudara Sultan Adam al-Watsiq Billah) jadi beliau adalah keponakan Sultan Adam al-Watsiq Billah, beliau seorang bangsawan Kesultanan Banjar dan juga seorang yang alim, serta pejuang anti penjajah dimasa penjajahan Belanda.

Karena melawan Belanda dan tidak mau bekerjasama, beIiau meninggalkan Banjar menuju Kota Padang di perkirakan tahun 1860-an pasca dibubarkannya Kesultanan Banjar oleh Penjajah Belanda.

Zuriat Pangeran Syahabuddin sampai sekarang masih ada baik di Banjar maupun di Padang dan lainnya.

SUMBER AWAL KEBERADAAN
Mufti Tuan Guru Besar H. Djazoely Seman atau dipanggil dengan sebutan Abah Anang sebelum meninggal beberapa kali menyampaikan kepada Sultan H. Khairul Saleh agar menziarahi makam Pangeran Syahabudin di Padang.

Cicit dari Pangeran Syahabuddin yaitu Prof. DR. Fihr Syahabuddin, Guru Besar di Universitas Ultrech Belanda, Ahli dalam Study Keislaman Timur Tengah dan Pernah jadi Penasehat Pemerintah Belanda, mengatakan kepada keluarga bahwa Pangeran Syahabuddin di makamkan di atas Gunung Pangilun.

Tuan Guru H. M.Irsyad Zein atau dipanggil Abu Daudi yang mana karya beliau salah satunya menyusun Silsilah keturunan Syeh Arsyad Al Banjari, juga mengatakan bahwa Pangeran Syahabudin dimakamkan di Padang, dan zuriat beliau masih banyak di Padang (di Ranah Minang).

PENCARIAN FAKTA KE PADANG Read more »

Sultan Banjar Bersilaturahmi dengan Keluarga Korban Banjir HSU

Bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan hingga berdampak terhadap aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat menggugah hati Sultan  Banjar H Khairul Saleh untuk meninjau sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga dalam kekerabatan Kesultanan Banjar.

Kendati harus berjalan kaki di permukaan tanah  yang masih direndami air setinggi lutut orang dewasa,  tak menyurutkan langkah  Sultan Banjar H Khairul Saleh memasuki permukiman penduduk untuk bersilaturahmi dengan keluarga dalam kekerabatan Kesultanan Banjar.

“Ulun mendoakan semoga banjir tahunan yang menimpa Kabupaten Hulu Sungai Utara ini cepat berlalu dan masyarakat bisa beraktivitas normal kembali, ” doa  Khairul Saleh saat mengunjungi di kediaman Pangeran Mas Adi , di Jl Tangga Ulin Hilir, Kecamatan Amuntai Tengah, Sabtu (13/4) pagi.

Kedatangan Sultan Banjar kelahiran 5 Januari 1964 ini disambut salah seorang tokoh masyarakat Amuntai, Pangeran Mas Adi yang kebetulan juga sebagai Adipati Kesultanan Banjar untuk wilayah Hulu Sungai Utara.

Bupati Banjar yang juga Ketua Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (DPW IPHI) Provinsi Kalimantan Selatan  datang ke Kota Amuntai  dalam rangka melantik dan mengukuhkan Dewan Pimpinan Daerah IPHI HSU Masa Bakti 2013-2018.

Khairul Saleh mengungkapkan rasa harunya melihat kondisi permukiman masyarakat yang masih dilanda banjir. Dia pun turut mendoakan masyarakat dan keluarga menerima musibah banjir dengan lapang dada sambil berdoa agar banjir cepat berlalu.

” Terpenting lagi  adalah Read more »

Sultan H Khairul Saleh Lantik IPHI HSU

Disaksikan Bupati Hulu Sungai Utara Drs H Abdul Wahid HK, MM, MSi, para tokoh masyarakat dan ulama yang tergabung dalam Dewan Pengurus Daerah Ikatan Persaudaraan Haji  Indonesia  (DPD IPHI) HSU Masa Bakti 2013-2018, resmi dilantik dan dikukuhkan Ketua IPHI Kalsel, Sultan H Khairul Saleh, Sabtu (13/4) pagi.

Dalam acara yang dilaksanakan  di Aula Kantor Bupati HSU Kota Amuntai, juga dihadiri Wakil Bupati HSU H Ahmad Husari Abdi, Lc, para ulama, pejabat dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah HSU, juga dibacakan susunan Pengurus DPD IPHI HSU oleh Sekretaris IPHI Kalsel, Drs H M Abduh, MAg, terpilih  sebagai Ketua IPHI HSU, Drs H Suharyanto dan anggota.

Ketua IPHI Kalsel Sultan H Khairul Saleh mengharapkan Pengurus IPHI HSU yang baru dilantik mampu mengemban amanah organisasi bersama pemerintah memberikan kontribusi sosial dan kemasyarakatan.

“Sebagai organisasi sosial keagamaan yang telah mendapat tempat di hati masyarakat dan terstruktur di tingkat daerah, peran IPHI sangat diharapkan untuk bersama pemerintah melestarikan nilai-  nilai kesantunan sosial  visi IPHI, yakni Haji Sepanjang Hayat, ” ujarnya.

Berkaitan pelaksanakan amanah organisasi itu,  penting bagi IPHI membuat program kerja yang beroreantasi bagi kepentingan anggota dan masyarakat. Di antara program kerja yang telah dilakukan IPHI antara lain, bidang pendidikan dengan menyelenggaran pendidikan usia dini, bidang kesehatan melalui pendirian poli klinik kesehatan serta bidang ekonomi melalui upaya pembukaan lapangan kerja baru dengan mendorong usaha kecil menengah hingga ke tingkat desa.

“Saya sangat mengharpkan Read more »

SULTAN BANJAR CUP DIPEREBUTKAN 89 TIM FUTSAL

Minggu 17/03/13.Turnamen Futsal Raja Banjar yang dilaksanakan di lapangan Futsal Pondok Lima berlangsung meriah dan turut dihadiri Raja Kesultanan Banjar Sultan H.Khairul Shaleh. Beliau yang juga Bupati Banjar berkenan membuka secara langsung kejuaraan yang memperebutkan Piala Bergilir Sultan Banjar yang baru pertama kali ini.

Peserta turnamen ini tidak hanya berasal dari Kabupaten Banjar, bahkan ada yang datang dari jauh, Balikpapan. Tidak tanggung – tanggung, 89 tim Futsal meramaikan kejuaraan ini. Syaukani, salah seorang panitia, mengungkapkan, pertandingan dibagi menjadi beberapa kategori yaitu kategori pelajar plus, mahasiswa plus dan instansi pemerintah.

Sebelum pertandingan pembukaan dimulai, Bupati Banjar Sultan H. Khairul Saleh pun berpesan, ajang ini bukan hanya sekedar memperebutkan gelar atau posisi juara saja, tapi juga jangan dilupakan sebagai ajang bersilaturahmi bagi sesama pecinta olah raga futsal.

Melihat antusiasnya tim peserta, Bupati Banjar Sultan H. Khairul Saleh berharap kejuaraan Sultan Banjar Cup ini dapat berlangsung terus di tahun – tahun mendatang. (YANI)

[Gallery not found]